Wednesday, November 28, 2007

Sayyidah Nafisah Terkenal Seorang Zuhud

Sejak berusia lima tahun Sayyidah Nafisah menghafal Al-Qur'an dan mempelajari tafsir Al-qur'an, serta selalu menziarahi makam datuknya, Rasulullah Saw. Sayyidah Nafisah terkenal zuhud, berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajud dan beribadah kepada Allah SWT.
Sayyidah Nafisah mulai umur enam tahun selalu menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi.
Sayyidah Nafisah menikah dengan putra pamannya, Ishaq al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H. Umur Sayyidah Nafisah ketika itu 16 tahun. Ia dikaruniai seorang putra bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. Sayyidah Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga puluh kali, sebagian besar ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena meneladani datuknya.
Riwayat-riwayat tentang Sayyidah Nafisah kebanyakan dinisbahkan kepada putri saudaranya, Zainab binti Yahya al-Mutawwaj, yang selalu menyertai dan menemaninya sepanjang hidupnya, serta tidak mau menikah karena ingin selalu melayani dan menyenangkannya. Zainab binti Yahya, saat berbicara tentang Sayyidah Nafisah, mengatakan, "Bibiku hafal Al Qur'an dan menafsirkannya, ia membaca Al Qur'an dengan menangis sambil berdoa.
Sayyidah Nafisah datang ke Mesir dari Palestina, usianya 48 tahun. Ia tiba pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu orang-orang Mesir mengetahui kabar kedatangannya, mereka pun berangkat untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya memasuki Mesir. Sayyidah Nafisah ditampung oleh seorang pedagang besar Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri berdatangan ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil berkah darinya. Nafisah khawatir, hal itu akan menyulitkan pemilik rumah. la pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di belakang Mesjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah. Penduduk Mesir yang telah mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah, segera mendatanginya. Nafisah merasa dengan banyaknya orang yang mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Ia berpikir untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui rencana Nafisah untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera kepenguasa Mesir, As-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah Nafisah untuk tetap tinggal di Mesir. As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. Kepada As-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw." Maka As-Sirri menanggapinya, "Wahai cucu putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Nafisah terkenal sebagai seorang yang zuhud, dan suka beribadah sepanjang hayatnya, Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya." Setelah lama terdiam, Sayyidah Nafisah berkata, 'Ya, saya menerimanya." Kemudian ia Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk mereka," kata as-Sirri lagi. Sayyidah Nafisah menerima tawaran itu. Ia pun pindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu. Perjumpaan Imam Syafi’i Ra dengan Sayyidah Nafisah Di rumah ini, Sayyidah Nafisah dikunjungi oleh banyak fuqaha, tokoh-tokoh tasawuf, dan orang-orang saleh. Di antara mereka adalah Imam Syafi’i, Imam 'Utsman bin Sa’id al-Mishri, Dzun Nun al-Mishri, Al Mishri as-Samarqandi, Imam Abubakar al-Adfawi dan banyak ulama lain. Imam Syafi’i datang ke Mesir pada tahun 198 H, lima tahun setelah kedatangan Sayyidah Nafisah, Ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir, ia menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah. Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah bersama beberapa orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash. Imam Syafi’i juga biasa melakukan salat Tarawih dengan Sayyidah Nafisah di mesjid Sayyidah Nafisah.
Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung, tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada Nafisah dan mengharap berkahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist darinya. Bila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai penggantinya. Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata kepada Sayyidah Nafisah, "Sesungguhnya putra pamanmu, Syafi'i, sedang sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh. Imam Syafi’i tahu bahwa Sayyidah Nafisah saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat. Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah mau menyalatkan jenazahnya bila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H, Sayyidah Nafisah melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah, dan di situ ia menyalatkannya. Yang menjadi Imam adalah Abu Ya'qub al Buwaithi, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Keponakan Sayyidah Nafisah, pernah ditanya, "Bagaimana kekuatan bibimu?" Ia menjawab, Ia makan sekali dalam tiga hari. Ia memiliki keranjang yang digantungkan di depan musalanya. Setiap kali ia meminta sesuatu untuk dimakannya, ia dapatkan di keranjang itu. Ia tidak mau mengambil sesuatu selain milik suaminya dan apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya." Salah seorang penguasa pernah memberikan seratus ribu dirham kepadanya dengan mengatakan, "Ambillah harta ini sebagai tanda syukur saya kepada Allah karena saya telah bertobat". Nafisah mengambil uang itu kemudian membagi-bagikannya kepada fakir miskin, orang jompo dan orang yang membutuhkannya sampai habis.
Menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri. Ketika Sayyidah Nafisah merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri. Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat. Al-Allamah al-Ajhuri mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah digalinya sebanyak enam ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk kaum Muslimin yang telah wafat. Ketika sakit, ia menulis surat kepada suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka, al-Qasim dan Ummu Kultsum. Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208 H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan mengatasi sakit yang dideritanya. Ia pun menjawab, "Sungguh aneh! Selama tiga puluh tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku dalam keadaan berpuasa. Maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang? Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya". Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk mereka itu kampung keselamatan (surga) di sisi Tuhan mereka. Dia penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (QS. al-An'am: 127) Nafisah lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Sebelumnya Nafisah berwasiat kepada suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang telah digalinya dengan tangannya sendiri. Penduduk Mesir mengumpulkan harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya enggan menerima permintaan itu. Malam itu pun mereka lewati dalam keadaan menderita, padahal mereka orang-orang terkemuka. Mereka tinggalkan harta mereka di tempat Sayyidah Nafisah. Ketika pagi, mereka mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah memenuhi pemintaan mereka untuk memakamkan istrinya di tempat mereka, namun ia mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan makamkanlah ia di tempat mereka.
Keramat Sayyidah Nafisah Keramat-keramat yang dinisbahkan kepada Sayyidah Nafisah baik waktu hidup atau sesudah wafatnya sangat banyak. Di antara keramatnya yang terjadi ketika masih hidup, adalah yang berhubungan dengan kesembuhan seorang gadis Yahudi dari penyakit lumpuh. Diceritakan bahwa ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir, ia tinggal bertetangga, dengan satu keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak gadis yang lumpuh. Pada suatu hari, ibu si gadis ingin pergi untuk suatu keperluan. Maka ia tinggalkan anaknya di tempat Sayyidah Nafisah. Ia meletakkan anaknya pada salah satu tiang dari rumah Sayyidah Nafisah. Ketika Sayyidah Nafisah berwudlu, air wudlunya jatuh ke tempat gadis Yahudi yang lumpuh itu. Tiba-tiba Allah memberikan ilham kepada gadis Yahudi itu agar mengambil air wudlu tersebut sedikit dengan tangannya dan membasuh kedua kakinya dengan air itu. Maka dengan izin Allah, anak itu dapat berdiri dan lumpuhnya hilang. Saat itu terjadi, Sayyidah Nafisah sudah sibuk dengan salatnya. Ketika anak itu tahu ibunya telah kembali dari pasar, ia pun mendatanginya dengan berlari dan mengisahkan apa yang telah terjadi. Maka menangislah si ibu karena sangat gembiranya, lalu berkata, "Tidak ragu lagi, agama Sayyidah Nafisah yang mulia itu sungguh-sungguh agama yang benar!" Kemudian ia masuk ke tempat Sayyidah Nafisah untuk menciumnya. Lalu ia mengucapkan kalimat syahadat dengan ikhlas karena Allah. Kemudian datang ayah si gadis yang bernama Ayub Abu as-Saraya, yang merupakan seorang tokoh Yahudi. Ketika ia melihat anak gadisnya telah sembuh, dan mengetahui sebab sembuhnya maka ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, "Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki dan menyesatkan orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah, inilah agama yang benar". Kemudian ia menuju rumah Sayyidah Nafisah dan meminta izin untuk masuk. Sayyidah Nafisah mengizinkanya. Ayah si gadis itu berbicara, kepadanya dari balik tirai. Ia berterima kasih kepada Sayyidah Nafisah dan menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat. Kisah itu kemudian menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok Yahudi yang lain yang tinggal bertetangga dengannya. Diriwayatkan oleh al-Azhari dalam kitab al-Kawakib as-Sayyarah: Ada seorang wanita tua yang memiliki empat anak gadis. Mereka dari minggu ke minggu makan dari hasil tenunan wanita itu. Sepanjang waktu ia membawa tenunan yang dihasilkannya ke pasar untuk dijualnya; setengah hasilnya digunakannya membeli bahan untuk ditenun sedangkan setengah sisanya digunakan untuk biaya makan minum mereka. Suatu ketika, wanita itu membawa tenunannya yang ditutupi kain yang sudah lusuh berwarna merah ke pasar sebagaimana biasanya. Tiba-tiba seekor burung merusaknya dan menyambar kain itu beserta isinya yang merupakan hasil usahanya selama seminggu. Menyadari musibah yang menimpanya, wanita itu pun jatuh pingsan. Ketika sadar, ia duduk sambil menangis. Ia berpikir bagaimana akan memberi makan anak-anak yatimnya. Orang-orang kemudian memberikan petunjuk kepadanya agar menemui Sayyidah Nafisah. Ia pun pergi ke tempat Sayyidah Nafisah dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya seraya meminta doa kepadanya. Sayyidah Nafisah lalu berdoa, "Wahai Allah, wahai Yang Maha Tinggi dan Maha Memiliki, gantikanlah untuk hamba-Mu ini apa yang telah rusak. Karena, mereka adalah makhluk-Mu dan tanggungan-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Kemudian ia berkata kepada wanita tua itu, "Duduklah, sesungguhnva Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Maka duduklah wanita itu menantikan kelapangan atas musibahnya, sementara hatinya terus menangisi anak-anaknya yang masih kecil. Tidak berapa lama kemudian, datanglah sekelompok orang menemui Sayyidah Nafisah. Kemudian mereka berkata kepadanya, "Kami mengalami kejadian yang aneh." Berceritalah mereka kepadanya tentang apa yang mereka alami. Mereka sedang mengadakan perjalanan di laut ketika tiba-tiba terjadi kebocoran dan perahu itu nyaris tenggelam. Tiba-tiba datang seekor burung yang menempelkan kain merah berisi tenunan di lobang itu sehingga lobang tersebut tersumbat dengan izin Allah. Sebagai tanda syukur kepada Allah, mereka memberikan lima ratus dinar kepada Sayyidah Nafisah. Maka menangislah Sayyidah Nafisah, seraya mengatakan, Tuhanku, Penolongku, alangkah kasih dan sayangnya Engkau kepada hamba-hamba-Mu!" Sayyidah Nafisah segera mendatangi wanita tua tadi dan bertanya kepadanya berapa ia menjual tenunannya. "Dua puluh dirham," jawabnya. Sayyidah Nafisah memberinya lima ratus dinar. Wanita itu mengambil uang tersebut, lalu pulang ke rumahnya. Kepada putri-putrinya, ia menceritakan kejadian yang ia alami. Mereka semua datang menemui Sayyidah Nafisah serta mengambil berkah darinya seraya menawarkan diri untuk menjadi pelayannya. Keramat-keramat Sayyidah Nafisah setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638 H, beberapa pencuri menyelinap ke mesjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan mesjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di mesjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari mesjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. (BQ)

Monday, November 26, 2007

Di Depan Makam Sayyidah Nafisah

3. Mesjid Sayyidah Nafisah
Mesjid ini termasuk rengking ketiga paling banyak diziarahi oleh masyarakat Mesir, setelah Mesjid Imam Husen dan Mesjid Sayyidah Zainab yang berada pada rengking satu dan dua.
Didalam mesjid tsb ada kuburan Sayyidah Nafisah yaitu putri dari Hasanul Anwar bin Zaid Al-Ablag bin Imam Hasan cucu Rasulullah Saw.
Sayyidah Nafisah dilahirkan di Madinah pada tahun 145 H.
Sejak kecil beliau tekenal sangat rajin beribadah, dan sangat shalehah dan dermawan, hampir seluruh hidupnya ia pergunakan untuk berpuasa, Menurut Zainab Pelayan Sayyidah Nafisah , beliau makan satu kali sehari, ia tidak pernah melihat Sayyidah Nafisah tidur lama pada malam hari ,. Hampir seluruh malamnya ia pergunakan untuk shalat dan ibadah , dalam sejarahnya Sayyidah Nafisah sangat makbul doanya.selain itu juga beliau terkenal sangat cantik.

Sunday, November 25, 2007

Dalam Masjid Sayyidah Aisyah


2.Mesjid Sayyidah Aisyah.
Tidak jauh dari benteng Shalahuddin Al-Ayyubi, Mesjid tersebut berada diperempatan jalan raya, Disebut Mesjid Sayyidah Aisyah karena didalamnya ada makam Sayyidah Aisyah binti Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammd bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw.
Sayyidah Aisyah termasuk keluarga Rasulullah Saw ( Ahlul Bait) dari garis keturunan Imam Husain, Sayyidah Aisyah terkenal ahli ibadah , disamping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan,Setiap hari ia bersedekah kepada faqir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit.

Menelusuri Jejak Ahlul Bait




Tepatnya pada tanggal 18 September 2006, hari senen pagi pukul 9.30. ibu-ibu Majlis Taklim Al-Muttaqin bersama ibu-ibu DWP KBRI Cairo berkumpul di SIC untuk berangkat berkunjung ke Mesjid- Mesjid bersejarah yang kedua kalinya pada tahun 2006 kemarin , walaupun dalam perjalanan cuaca cukup panas tapi tidak mengurangi semangat ibu-ibu, sehingga perjalanan terasa senang dan aman.
Dengan guide yang cukup berpengalaman dan ahli dalam sejarah mesjid-mesjid terkenal di Cairo, yang ibu-ibu tidak asing lagi dengan beliau yaitu Ustadh Aep Saifullah.
Ziarah yang ke II ini yaitu menulusuri Jejak Ahlul Bait Nabi Saw di kota Kairo dintaranya :

1. Mesjid Hasanul Anwar Dan Zaid Al- Ablag
Letaknya tidak jauh dari dinding Majrul Uyun Mesir Qodimah ( old Cairo) tepatnya dijalan menuju Mesjid Amer bin Ash terdapat mesjid tidak terlalu besar nyempil, Mesjid tersebut adalah mesjid Sayyid Hasanul Anwar.
Dinamakan Hasanul Anwar karena di dalamnya terdapat kuburan Sayyid Hasanul Anwar. Disamping kuburan Hasanul Anwar, tedapat kuburan ayahnya yakni Sayyid Zaid al-Ablag yaitu putra dari imam Hasan cucu Rasulullah Saw.
Sayyid Hasanul Anwar dilahirkan di Madinah pada tahun 83 H, beliau sejak kecil dididik oleh ayahnya Sayyid Zaid al-Ablag.hampir semua disiplin ilmu dipelajari dan dikuasainya, oleh karena itu, tidak heran apabila beliau disamping sebagai orang shaleh,juga sebagai ulama, cendikiawan.
Pada usia ke 67 tahun, beliau diangkat menjadi gubernur Madinah oleh penguasa Dinasti Abbasiyyah, beliau meninggal usia 85 tahun.

Sunday, November 18, 2007

MASJID RIFA'I


MESJID RIFA'I
Guide yang berpengalaman Ust,Aep Saifullah

Persis di samping mesjid Sultan Hasan, berdiri sebuah mesjid yang tidak kalah tinggi dan megahnya. Mesjid ini adalah Mesjid Rifa'i.
Imam Rifa'i dilahirkan di sebuah kota yang bernama Ummu Ubaidah, Baghdad, Irak pada tahun 512 H pada masa Dinasti Abbasiyyah Kedua, tepatnya pada masa Khalifah al-Mustadhhar billah. Imam Rifa'i lahir dalam keadaan yatim, karena ayahnya sudah meninggal dunia ketika ia masih dalam perut ibunya. Nama Rifa'i sendiri sebenarnya bukanlah nama aslinya. Ia adalah nama salah satu dari leluhurnya, Nama asli dari Imam Rifa'i adalah Ahmad bin Yahya bin Tsabit bin Hazim bin Rifa'ah.
Imam Rifa'i diasuh, dididik dan dibesarkan oleh paman dari pihak ibunya yang bernama Syaikh Mansur al-Bathaihy.. Ketika usia pamannya sudah menjelang ajal, Ia menunjuk Imam Rifa'i sebagai khalifah atau penerus kepemimpinan 'pesantrennya'.,karena melihat kecerdasan dan ketakwaan Imam Rifa'i yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan murid-murid lainnya termasuk dibandingkan dengan putranya sendiri. .
Imam Rifa'i terkenal seorang ulama yang sangat shaleh. Dalam beberapa buku tarajum disebutkan bahwa dia adalah orang yang selalu membantu orang lemah, sayang kepada fakir miskin, belas kasihan kepada anak-anak yatim. Setiap hari Imam Rifa'i mengumpulkan kayu bakar lalu dijual ke pasar, dan uangnya dibagikan kepada fakir miskin di sekitarnya. Setiap sore, dia memikul tempat air besar dan dibagikan kepada wanita-wanita yang sudah tua.
Imam Rifa'i juga hampir setiap hari selalu menyapu dan membersihkan mesjid, meski ia sudah menjadi syaikh besar dan tokoh Tariqat Rifa'iyyah. Apabila adzan berkumandang, ia tinggalkan semua kegiatan dan urusan dunianya untuk menuju mesjid dan shalat terlebih dahulu. Setiap hari, Imam Rifa'i selalu memimpin halaqah dzikir (perkumpulan dzikir) di tempatnya. Halaqah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Tariqat Rifa'iyyah (Tariqat yang dinisbahkan kepada pendirinya Imam Rifa'i).
Imam Rifa'i terkenal sangat sayang kepada binatang. Suatu hari ia melihat seekor anjing sakit, Imam Rifa'i lalu mengobatinya dan memberinya minum sampai anjing itu sembuh. Dalam kesempatan lain, Imam Rifa'i melihat seekor ular yang luka karena bertarung dengan sesamanya. Ia lalu membawanya ke rumah dan mengobatinya sampai sembuh. Karena akhlaknya yang mulia dan perangainya yang tinggi, Allah memberikan kelebihan-kelebihan (karamat). Di antara karamatnya, Imam Rifa'i terkenal dengan orang yang sangat dekat dan jinak dengan binatang buas, terutama dengan ular. Apabila ada ular berbisa yang berbahaya dan seringkali menyengat para penduduk, ketika Imam Rifa'i menghampirinya, ular itu menjadi jinak dan baik.
Masjid ini dibangun pada tahun 1286 H atau pada tahun 1869 M ,dibangun selama sebelas tahun dengan tinggi pondasinya dua meter di atas permukaan tanah. Pada tahun 1880 M, proyek pembangunan mesjid ini sempat tertunda selama dua puluh lima tahun. Baru disempurnakan dan dirampungkan sampai tuntas pada masa Raja Abbas Hilmy Kedua pada tahun 1912 M.
Mesjid Rifai ini termasuk masjid termegah dan terindah yang dibangun pada abad ke-20. Kehebatan dan kemegahan bangunan ini nampak dari tingginya yang hampir menandingi ketinggian mesjid Sultan Hasan, juga terkenal dengan arsitekturnya yang tidak kalah hebat. Mesjid ini juga terkenal dengan pintu masuknya yang sangat tinggi dengan ornamen dan arsitektur yang luar biasa.
Luas mesjid ini sekitar 6500 meter, dan luas ruangan khusus untuk shalat mencapai 1767 meter. Di dalam mesjid juga banyak terdapat marmer-marmer yang sangat mahal berikut sentuhan arsitektur yang sangat rapih. Di bagian dalam mesjid, terdapat makan Syakh Ali bin Syabak atau lebih dikenal dengan Rifa'i Kecil, salah seorang tokoh yang menyebarkan Tariqat Rifa'iyyah di Mesir. Di dalamnya juga terdapat bangku untuk membaca mushaf al-Qur'an yang konon, qari' terkenal asal Mesir Syaikh Abdul Basith, biasa membaca al-Qur'an dengan bangku tersebut.
Di dalam mesjid, juga nampak tiang-tiangnya yang sangat besar dan megah. Pondasi tiang mesjid dihias dengan ukiran yang sangat cantik. Atap mesjid yang sangat tinggi dengan sentuhan arsitektur tinggi menambah keindahan dan kehebatan mesjid ini. Jendela-jendela dan ventilasi mesjid juga dihias dengan berbagai ukiran yang sangat menarik dan indah yang sampai saat ini tetap terjaga dan terpelihara. Marmer-marmernya yang indah juga turut menghias mesjid ini.
Di bagian ujung mesjid terdapat makan raja Fu'ad Pertama. Di sampingnya juga terdapat kuburan ibunya yang bernama Amirah Fariyal yang meninggal pada tahun 1910 M. Di dalam mesjid juga terdapat kuburan Khadiyu Ismail Basya bersama isteri-isteri dan putra putrinya. Masih di dalam mesjid, juga terdapat kuburan Raja Faruq, raja terakhir Mesir yang digulingkan, Raja Faruq meninggal dalam pengasingannya di Italia, lalu jenazahnya dipindahkan ke Mesir dan dikuburkan di dalam mesjid Rifa'i ini.
Di dalam mesjid Rifa'i juga terdapat makam Syah Iran, Reza Pahlevi, pemimpin Iran yang digulingkan oleh Imam Khumaini. Setelah digulingkan, Reza Pahlevi tidak diterima oleh negara-negara Islam saat itu, kecuali Mesir. untuk dikuburkan di kota seribu menara ini. Lantai di sekitar makan Syah Iran dipasang marmer yang sangat indah.
Menurut penuturan salah seorang tukang kebersihannya, hampir setiap tahun keluarga Syah Iran berkunjung ke makam orang tuanya ini.
Sampai saat ini mesjid Imam Rifa'i tetap dipakai untuk shalat berjamaah setiap waktu dan shalat Jum'at. Setiap hari Jum'at, tepatnya selesai shalat Jum'at, halaqah Dzikir Tariqat Rifa'iyyah masih berjalan sampai sekarang. Bahkan, peringatan kelahiran (maulid) Imam Rifa'i pun berpusat di mesjid ini.
Pada malam maulid Imam Rifa'i, semua murid dan pengikut Tariqat Rifa'iyyah dari seluruh pelosok Mesir berkumpul di mesjid ini. Biasanya diawali pawai dari Mesjid Imam Husain menuju mesjid ini dengan berjalan kaki sambil membaca dzikir dan ibtihal (doa dan sanjungan kepada Rasulullah saw). Acara maulid ini biasanya dimulai setelah shalat Ashar. Tariqat Rifa'iyyah juga mempunyai ciri khusus di mana bendera dan sorbannya berwarna hitam.
Mesjid Rifa'i termasuk salah satu saksi sejarah bahwa peradaban Islam pada masa lalu sangat tinggi dan luar biasa. Mesjid ini sempat direhab dan direnovasi oleh Departemen Peninggalan-Peninggalan Kuno Mesir di bawah pimpinan Dr. Ahmad Qadry.





Wednesday, November 14, 2007

MASJID SULTAN HASAN


Guide Ust Aep Saifullah menjelaskan : Mesjid Sultan Hasan dibangun oleh Sultan an-Nashir Hasan bin Muhammad ibn Qalawun (lahir tahun 735 H / 1334 M), salah seorang dari sederatan raja pada Dinasti Mamalik Bahriyyah. Sultan Hasan diangkat menjadi raja di Mesir ketika usianya masih sangat muda, 13 tahun tepatnya pada tahun 748 H atau 1347 M. Karena usianya yang masih sangat muda, maka diangkatlah Bigharous sebagai wakil raja untuk urusan dalam negeri.
Mesjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Hasan pada tahun 757 H atau pada tahun 1421 Masehi. Mesjid ini dibangun selama tiga tahun berturut-turut tanpa istirahat satu hari pun dengan biaya perhari sebesar dua puluh ribu dinar. Untuk biaya pembangunan ruangan mesjidnya saja menghabiskan anggaran sebesar seratus ribu dinar. Saking besarnya biaya pembangunan mesjid ini, Pantas apabila mesjid Sultan Hasan ini adalah mesjid termahal di antara mesjid-mesjid yang ada di Mesir.
Sebelum masjid ini rampung total, pada tahun 760 H atau pada tahun 1359 M, Sultan Hasan gugur syahid di medan laga. Pembangunan mesjid kemudian diteruskan oleh salah seorang gubernurnya yang bernama Basyir Agha.
Luas bangunan mesjid ini kurang lebih 79,6 meter dengan panjang 150 meter, lebar 68 meter dan tinggi 37, 70 meter. Pintu masuk mesjid ini, menurut para sejarawan adalah pintu masuk yan paling besar dan luas dibandingkan dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Islam lainnya di Mesir.
Di bagian depan pintu masuk, anda sudah dapat menyaksikan arsitektur yang sangat luar biasa tingginya baik yang tertera di dinding mesjid maupun di bagian atap mesjid. Di tengah perjalanan menuju ke dalam mesjid, anda akan mendapatkan pintu lain menuju ke arah sebelah kanan—yang kini pintu tersebut dikunci. Pintu tersebut adalah pintu menuju rumah sakit, kamar-kamar untuk para santri berikut para pengelola mesjid yang sudah disediakan khusus.
Begitu masuk ke dalam mesjid anda akan mendapatkan empat ruangan saling berhadapan. Keempat ruangan tersebut adalah tempat mengkaji dan mempelajari fiqih empat madzhab; Maliki, Syafi'i, Hanafi dan Hanbali. Ruangan yang paling besar, tepatnya ruangan yang di dalamnya ada mimbar adalah ruangan untuk mengkaji madzhab Syafi'i.
Sultan Hasan termasuk raja yang baik dan cinta dengan ilmu. Masjid megahnya sengaja dijadikan 'pesantren' bagi mereka yang hendak mengkaji fiqih empat madzhab. Semua santri diberikan tempat tinggal gratis, makan gratis, kesehatan yang sudah siap dengan tenaga medis yang sangat profesional, bahkan setiap santri diberikan uang saku perbulan sebesar 100 dirham. Selain fasilitas di atas, Sultan Hasan juga sudah menyiapkan para syaikh sebagai tenaga pengajar profesional yang digaji perbulannya 300 dirham. Jumlah ini sangat besar untuk ukuran saat itu yang rata-rata penghasilan penduduk hanya 40-50 dirham perbulannya. Bahkan gaji tenaga pengajar tersebut sama dengan gajinya Hakim Agung (Qadhi Qudhat) pada saat itu. Sementara tukang adzan dan petugas kebersihan digaji perbulannya sebesar 40 dirham.
Di tengah-tengah ruangan mesjid nampak ada bangunan kecil seperti masjid kecil. Bangunan tersebut adalah tempat berwudhu para santri yang belajar fiqih empat madzhab.
Pada awalnya Sultan Hasan berniat akan membangun empat menara untuk masjid ini. Menara-menara ini fungsinya sebagai tempat adzan yang pada saat itu belum dikenal adanya mikrofon atau pengeras suara. Namun, ketika sedang membangun menara ketiga, tiba-tiba menara itu jatuh sehingga menimbulkan banyak kerugian bahkan sampai merenggut nyawa para pekerjanya dalam jumlah yang sangat banyak, tiga ratus orang. Melihat banyak kerugian itu, akhirnya Sultan Hasan mengurungkan niat pembangunan menara yang ketiga dan keempatnya, dan akhirnya sampai saat ini menara mesjid Sultan Hasan hanya dua saja.
Di dalam mesjid, tepatnya di bagian ujung mesjid, terdapat kuburan Sultan Hasan. Di samping kuburan nampak ada bangku yang terbuat dari kayu yang sampai saat ini masih kokoh dan kuat. Bangku tersebut berfungsi sebagai tempat membaca al-Qur'an para santri atau para peziarah untuk mendoakan sultan Hasan. Bangku tempat membaca al-Qur'an tersebut terbuat dari jenis kayu Abnus dari Sudan. Bangku tersebut juga dilapisi dengan gading gajah yang sangat indah dan unik. Bahkan bangku tersebut juga merupakan bangku tempat membaca al-Qur'an pertama yang terdapat di Mesir. Usia mesjid ini sampai sekarang sudah lebih dari 600 tahun, namun masih nampak kokoh dan kuat.
Sejarawan asal Italia, Messaou Tifano, mengomentari mesjid Sultan Hasan ini dengan mengatakan: "Apabila Mesir pada masa Fir'aun patut berbangga dengan pyramid-pyramidnya, maka Mesir pada masa Islam juga patut berbangga dengan Mesjid Sultan Hasan yang tidak ada satu pun bangunan yang dapat menandinginya di kawasan Timur.

Monday, November 12, 2007

MASJID AL-HAKIM BI AMRILLAH

Mesjid al-Hakim dibangun pertama kali oleh Khalifah al-Aziz Billah pada tahun 381 H / 990 M.Tapi, sampai Khalifah Al-Aziz Billah meninggal, bangunan mesjid belum selesai. Namun Pada tahun 393 H / 1002 M, Khalifah Al- Hakim Bi Amrillah putra Kholifah Al-Aziz Billah Menyelesaikan masjid tersebut dan menyempurnakannya , Biaya yang dikeluarkan Khalifah al-Hakim bi Amrillah untuk menyelesaikan pembangunan mesjid ini kurang lebih 40 ribu dinar.
Mesjid al-Hakim bi Amrillah ini terletak di samping pintu al-Futuh (Babul Futuh) tepatnya di daerah Darrasah, sekitar 500 meter dari mesjid Imam Husain.
Masjid ini terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk menengah ke bawah. Bahkan di sekeliling mesjid adalah pasar.
Pada masa Dinasti Fathimiyyah, mesjid ini menjadi mesjid kedua pusat ilmu, setelah mesjid al-Azhar, di mana banyak para ulama dan fuqaha yang membuka halaqah tadris di dalam mesjid. Bahkan, mesjid ini juga merupakan salah satu mesjid tempat diajarkan fiqih dan ajaran Syi'ah, karena sebagaimana sama-sama diketahui, Dinasti Fatimiyyah adalah dinasti bermadzhab Syi'ah.
Hampir semua bangunan mesjid al-Hakim bi Amrillah baru, kecuali dua menaranya saja yang sampai saat ini masih kokoh berdiri belum pernah mengalami renovasi. Menara inilah yang menjadi ciri khas mesjid al-Hakim bi Amrillah sekaligus termasuk di antara menara mesjid yang paling pertama di Mesir.
Di dalam mesjid, terdapat dua mihrab. Mihrab pertama adalah mihrab yang dibangun pada masa Dinasti Fathimiyyah. Cirinya, di atas mihrab tertuang tulisan Muhammad wa Ali (Muhammad saw dan Ali bin Abi Thalib). Mihrab kedua adalah mihrab yang dibuat pada masa Dinasti Mamalik yang berada di samping Mihrab Fathimiyyah.
Di dalam mesjid, juga terdapat sumur yang airnya sampai saat ini masih mengalir dan dipakai untuk berwudhu, air yang dihasilkan dari Sumur tersebut rasanya mirip dengan Air Zam-Zam. Di dalam mesjid juga ada dua buah kolam yang masih berisi air yang dahulunya dipakai untuk berwudhu. Sampai sekarang, kedua kulah tersebut masih terjaga dan airnya masih nampak penuh.
Al-Hakim sebenarnya terkenal orang yang sangat shaleh dan baik. Hanya, memang ia banyak mengeluarkan pernyataan dan keputusan yang menurut orang-orang saat itu dipandang 'aneh' dan nyeleneh. Di antara keputusan-keputusannya yang aneh menurut penduduk saat itu adalah penduduk dilarang memanggil sultan atau penguasa dengan sebutan maulana atau sayyidina, tidak boleh mencium tangan manusia, tidak boleh mencium tanah dan dilarang menyalakan api atau cahaya di jalan-jalan menuju tempat shalat.
Mesjid al-Hakim bi Amrillah sampai saat ini tetap dipakai untuk shalat wajib lima waktu dan shalat Jum'at. Semua bangunannya nampak baru, karena baru diperbaharui oleh Departemen Benda-Benda Lama Mesir, kecuali dua menaranya yang masih utuh dan asli seperti dahulu kala. Apabila anda bermaksud untuk mengunjunginya, sebaiknya anda datang dari arah pintu al-Futuh, jangan dari arah Mesjid Imam Husain. Hal ini di samping lebih dekat juga lebih mudah dan lebih leluasa.

Friday, November 9, 2007

MESJID IBNU THULUN


MESJID IBNU THULUN

Masjid Ibn Thulun terletak di jalan Sayyidah Zaenab, tepatnya di pertengahan jalan antara Sayyidah Aisyah menuju Sayyidah Zaenab. Merupakan masjid ketiga yang dibangun di Mesir setelah Masjid Amer bin Ash dan masjid Askar, masjid ini berbeda dengan masjid-masjid yang lain, dimana tangga untuk menuju ke menaranya terdapat diluar.
Mesjid Ibnu Thulun dibangun oleh Ahmad bin Thulun atau Ibnu Thulun pada tahun 263 H / 876 M. Dibangun dalam waktu kurang lebih dua tahun (876 – 878 M). Oleh karena itu, masjid Ibnu Thulun termasuk masjid paling tua di Mesir karena umurnya sampai saat ini sudah lebih dari 1100 tahun.
Pada bulan Ramadhan tahun 220 H, Thulun mempunyai seorang putra bernama Ahmad yang dilahirkan di Baghdad. Ahmad inilah yang kemudian dikenal dengan Ibnu Thulun (Ahmad bin Thulun)
Ahmad bin Thulun dipilih oleh Khalifah Abbasiyyah saat itu sebagai pegawai untuk memungut pajak ke daerah Mesir. Setelah sampai di Mesir, Ahmad bin Thulun langsung menyukai Mesir. Akhirnya, setelah melihat perangai khalifah-khalifah Abbasiyyah yang tidak sesuai lagi dengan ajaran Islam, Ahmad bin Thulun menyatakan berpisah diri dari khalifah Abbasiyyah di Baghdad, kemudian mendirikan negara sendiri di Mesir, yang terlepas dari kendali Abbasiyyah.
Akhirnya Ahmad bin Thulun menjadi raja di Mesir pada tahun 254 H / 868 M, ketika itu ibu kota Mesir bernama 'Askar.
Kemudian Ibnu Thulun memindahkan ibu kota Mesir dari daerah Askar ke Qathai', masjid besar saat itu baru dua buah, yaitu mesjid Amer bin Ash dan mesjid 'Askar. Ibnu Thulun merasa perlu untuk membangun mesjid yang baru, karena makin bertambah dan banyaknya penduduk, sementara masjid yang tersedia sangat terbatas. Untuk itu, ia membangun masjid Ibnu Thulun.
Ibnu Thulun selain ahli perang dan strategi juga terkenal orang yang sangat baik dan disukai rakyat. Hidupnya sederhana, ramah, suka membantu dan patuh beragama.
Menurut para ahli sejarah, Ibnu Thulun adalah satu-satunya khalifah atau raja Mesir yang tidak pernah meminum arak meski hanya seteguk. Di samping itu, Ibnu Thulun adalah satu-satunya raja yang hanya mempunyai satu orang isteri. Hidupnya yang sederhana dan sangat perhatian kepada rakyat, membuat rakyat sangat menyukai dan berpihak kepadanya.
Suatu hari Ibnu Thulun bermaksud untuk membebaskan rakyatnya dari membayar pajak. Ia lalu berkonsultasi dengan menteri pajak, tapi di tolak oleh mentri keuangannya saat itu, Ibnu Thulun pun hampir saja mengurungkan niatnya .
Suatu malam, Ibnu Thulun bermimpi. dihampiri oleh seorang lelaki sufi ahli ibadah. Laki-laki itu menyarankan Ibnu Thulun agar tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh mentrinya, dan berkata: "Barangsiapa yang memberikan sesuatu karena Allah, maka Allah lah yang akan menggantikannya dengan yang lebih baik".
Kebimbangan antara mengambil pajak atau tidak sangat mengganggunya, namun setelah mimpi ini. Akhirnya, memutuskan untuk tetap mengambil kebijakan untuk tidak mengambil pajak.
Beberapa lama setelah Ibn Thulun membebaskan pajak rakyatnya, ia pergi bersama beberapa pengawalnya jalan-jalan ke tempat dekat gunung dengan menaiki kuda. Tiba-tiba kaki kudanya terperosok ke dalam lubang yang ternyata adalah terowongan, setelah ditelusuri ternyata di dalam terowongan itu terdapat sebuah peti besar. Begitu peti itu dibuka, berisi uang yang mencapai 1 juta dinar. Ibnu Thulun langsung sujud syukur dan yakin, teringat kata-kata lelaki yang datang dalam mimpinya "bahwa Allah akan mengganti apa yang ia berikan karenaNya, uang itulah yang kemudian dijadikan untuk membangun masjid yang dinamai masjid ibnu Thulun. Masjid ini terdiri dari 42 pintu, di antaranya 21 pintu masih asli seperti dahulu kala, belum direnovasi. Diinding-dindingnya dilengkapi dengan jendela-jendela yang jumlahnya 129 buah yang dilapisi dengan kapur yang diukir indah dan menarik. Di dalam mesjid juga terdapat lima buah mihrab. Mihrab yang paling besar dan paling punya nilai sejarah..

MENGENAL MESJID - MESJID BERSEJARAH DI MESIR




MENGENAL MESJID-MESJID BERSEJARAH DI MESIR

Tepatnya tanggal 23 mei 2006 yang lalu Pengurus pengajian Al-Muttaqin Masjid Indonesia Cairo mengadakan kegiatan untuk menelusuri masjid-masjid bersejarah di kota mesir dengan dipandu guide yang berpengalaman yaitu ust Aep Saifullah..Pengurus Majlis Taklim Al-Muttaqin berniat mengadakan kegiatan ini agar seluruh anggotanya mengetahui masjid-masjid bersejarah di zaman kejayaan islam.
Guide/ ust Aep Saifullah menjelaskan bahwa kota kairo ini memang sangat banyak masjid- masjid bersejarah, dan masjid-masjid tersebut paling tidak dapat dikelompokkan kepada tiga kelompok besar. Pertama, kelompok masjid-masjid yang mempunyai keterkaitan dengan raja-raja atau dinasti-dinasti yang pernah berkuasa di Mesir. Seperti Mesjid Sultan Hasan, Mesjid Muhammad Ali, Mesjid Mahmudiyyah dan Mesjid Ibnu Thulun. Mesjid-mesjid tersebut umumnya mempunyai nilai seni dan arsitektur yang sangat tinggi dan biaya pembangunannya sangat mahal, karena dibangun oleh penguasa saat itu.
Kedua, kelompok mesjid yang mempunyai keterkaitan dengan cucu dan cicit atau keluarga Rasulullah saw (Ahlul Bait Nabi saw). Seperti : Mesjid Sayyidah Zainab, Mesjid Sayyidah Aisyah, Mesjid Sayyidah Nafisah dan Mesjid Ali Zainul Abidin. Mesjid-mesjid yang masuk dalam katagori ini umumnya bangunannya sederhana.
Ketiga, kelompok mesjid yang mempunyai keterkaitan dengan perorangan yang mempunyai jasa besar dalam Islam, atau boleh dikatakan perorangan yang dipandang sebagai ulama dan orang shaleh. Seperti : mesjid Imam Syafi'i, Mesjid Imam Laits, Mesjid Imam Rifa'i, Mesjid Ibn Athaillah as-Sakandary dan Mesjid Uqbah bin Amir.
Mesjid-mesjid dalam kategori kedua dan ketiga bangunannya biasa saja tidak 'wah' karena tidak memakan banyak biaya.
Dalam kesempatan ini, guide ust Aep Saifullah mengajak ibu-ibu Majlis Taklim Almuttaqin untuk menziarahi masjid-masjid bersejarah tersebut diawali dari masjid-masjid yang masuk dalam katagori pertama yaitu empat masjid besar di Kairo, yakni Mesjid Ibn Thulun, Mesjid al-Hakim bi Amrillah, Mesjid Sultan Hasan dan Mesjid Imam Rifaii.

Saturday, November 3, 2007

Ziarah Ke Masjid / Makam Imam Syafii


Saat jalan- jalan bersama rombongan ibu Hasyim Muzadi ke Masjid dan makam Imam Syafii. Masjid Imam Syafii adalah termasuk masjid tertua di Mesir dan bersejarah terletak dikawasan Hayyu Syafii, yaitu masih ditengah kota Cairo, sepertinya masjid tersebut kurang terawat, tapi katanya memang sengaja dipertahankan sesuai dengan wujud aslinya. 'Bahan bangunan masjid tersebut semua terbuat dari marmer dan batu-batu alam pilihan. Hanya persoalannya, karena termakan usia dan terkena debu sehingga warnanya berubah menjadi kecokelat-cokelatan, .. Makam Imam Syafii terletak di dalam masjid belakang kanan tempat biasa imam berkhotbah, Imam Syafii adalah salah satu imam dari empat madhab, beliau wafat pada 820 M. Nama lengkapnya Imam Muhammad bin Idris As Syafii. Lahir dalam keluarga miskin di daerah Gaza, Palestina. Beliau keturunan Quraisy dan bertemu nasabnya dengan Nabi Muhammad Saw pada Abdul Manaf. Karena itu, beliau menganggap dirinya kerabat Rasulullah. Ayahnya meninggal ketika beliau masih kecil. Syafii bersama ibunya hijrah ke Makkah. Dalam usia kanak-kanak, beliau sudah hafal Alquran 30 juz, dan juga hadis-hadis Nabi. Di samping itu, beliau sangat tekun .
Tepat di sebelahnya adalah Makam Abdullah bin Hakam, teman Imam Syafi'i. Apa yang mengharukan disekitar masjid itu adalah situasi penduduk di kawasan itu kini bergelut dalam kemiskinan dan kedhaifan.